Assalamu 'alaikum ,  Ahlan Wa Sahlan  |  Sign in  |  Registered Now  |  Need Help ?

RAMADHAN: PELAJARAN PALING BERHARGA

Sabtu, 19 November 20110 komentar

Hari itu adalah hari terakhir bulan puasa ramadhan. Sudah menjadi kebiasaan dan adat warga kampung saat itu di hari kelima belas mereka sudah ramai bahkan sibuk mempersiapkan untuk menyambut hari kemenangan. Mulai dari membersihkan rumah, membuat kue, persiapan mudik ke kampung halaman, dll.

Tapi malam ini lain halnya dengan salah satu jamaah masjid yang kupanggil Pak Umil ini. Setiap ba’da tarawih beliau masih bertahan di atas sajadah yang lumayan lusuh miliknya. Tak henti- hentinya beliau bermunajat kepada Allah SWT. Dapat kutaksir dari guratan wajahnya ada secercah harapan agung dalam menjalani ibadah di bulan ramadhan ini. Aku yakin beliau telah paham apa sebenarnya hakikat puasa ramadhan sebenarnya.

Pernah suatu malam aku dan temanku silaturrahim ke rumah Pak Umil. Aku hanya ingin mengobrol saja waktu itu. Tapi alangkah baiknya kalau Pak Umil bersedia mengajak kami diskusi atau hanya sekedar memberikan pelajaran penuh hikmah kepada kami. Seperti biasa kalau Pak Umil sedang mengobrol dengan tamunya, beliau pasti ditemani segelas kopi kesukaannya. Kata beliau “kalau saya gak minum kopi saya gak bisa mikir apalagi konsentrasi.”

“Sangat disayangkan sekarang kebanyakan umat ini banyak yang sudah tak lagi menggubris apa yang terkadang mereka ucapkan sendiri. Apalagi sering diulang- ulang di atas mimbar masjid ataupun mushollah bahwa puasa ini adalah menahan nafsu. Dimana kita harus mampu mengendalikan nafsu kita untuk tidak makan, minum dan tentu hal- hal yang bisa membatalkan ibadah puasa kita. Tapi mengapa saat kumandang Maghrib tiba, mereka sudah lupa dan kelewat batas. Mereka bergairah menyiapkan menu buka puasa. Mulai kolak, sirup, buah- buahan, makanan dll mereka hidangkan di atas meja. Padahal tidak mungkin semua bisa masuk. Kalau sudah begini dimana letak nafsu kita kalau kita sudah kalah dengan segala bentuk menu makanan dan minuman ini.”

Aku dan temanku hanya bisa terpana membisu mendengarkan obrolan pembuka Pak Umil. Apa yang dikatakan Pak Umil sangat mengena dan bahkan aku merasa tersindir oleh apa yang dikatakan Pak Umil. Karena selama ini aku sering mempersiapkan menu buka puasa besar- besaran. Seolah aku kan balas dendam karena seharian tidak makan dan minum. Bahkan suatu hari aku tak kuat lagi ikut sholat Tarawih di Masjid karena perutku telah penuh dengan makanan dan minuman sisa berbuka puasa. Tak terasa aku ikut merasakan kesedihan dan miris. Ternyata aku belum mampu menahan nafsu seperti yang selama ini aku pelajari dan yang aku dengar setiap hari.

Ingin rasanya kalau kalau aku bisa berjumpa tahun depan, aku akan lebih bisa menahan nafsu agar tidak terjebak lagi. Aku sangat ingin menjadi muslim yang sesungguhnya. Aku harus lebih bisa menahan nafsu seperti yang telah Pak Umil ajarkan waktu itu. Karena aku yakin akhlak yang telah Nabi SAW ajarkan memang begitu adanya.

Paginya harinya setelah melaksanakan sholat Iedul Fithri, aku sempatkan sungkem dengan beliau. Aku meminta maaf kepada beliau seandainya dalam bergaul dengan beliau aku banyak salah dan khilaf. Semakin lama kupandangi sosok Pak Umil sangat berwibawa menurutku. Seolah Pak Umil juga menjadi orangtuaku. Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar… Lailaha illallah Wallahu Akbar. Allahu Akbar Walillahil Hamd.



Share this article :

Posting Komentar

Terimakasih Atas Kunjungan Anda
Komentar Anda sangat Berarti Buat Blog Ini
Maaf SPAM akan Dihapus,
Contoh SPAM : Mengetik Link Pada Komentar, Komentar tidak sesuai Isi Artikel,No Porno, No Sara.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ikatan Santri Ibad Ar Rahman - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger